Jiwa Ketok

Jiwa Ketok (Konsep Karya Seni S. Sudjojono)

Jika ditanya “Siapa pelukis Indonesia yang dikenal?”, mungkin kebanyakan orang akan menjawab Raden Saleh, Basuki Abdullah, atau Affandi. Di samping ketiga nama itu, sebenarnya Indonesia di era 1930-an mempunyai pelukis dan kritikus seni bernama S. Sudjojono. Sudjojono lahir dengan nama Sudjiojono Sindudarsono yang berarti Sudjiono anak Sindu. Sudjojono di sekitar akhir 1930-an menghilangkan huruf “i” dari namanya sehingga menjadi Sudjojono dengan alasan lidahnya senantiasa keseleo tiap kali menyebut “djiojono” (Siregar, 2010: 23). Sudjojono hidup pada kurun waktu 1913-1986.

Sudjojono adalah salah seorang seniman yang terlibat dalam pendirian Persatuan Ahli Gambar Indonesia (Persagi) dan Seniman Indonesia Muda (SIM). Persagi dikenal sebagai organisasi seniman lukis pertama di Indonesia yang membubuhkan kata Indonesia pada nama organisasinya. Penggunaan nama Indonesia ini membuktikan adanya semacam komitmen untuk mengusung identitas yang membawa aliran baru, paham baru, dan falsafah baru, sesuai kenyataan yang ada (Subandi, 2000: 120). Persagi seringkali dikatakan sebagai tonggak dimulainya era baru, kesadaran baru, pengetahuan baru, dan tradisi baru dalam seni lukis di Indonesia. Persagi dengan menggunakan kata “Indonesia” juga turut menegaskan identitas kebangsaan. Bertopang pada dasar pikiran yang demikian, banyak pengamat seni mengatakan bahwa Persagi merepresentasikan nasionalisme yang paling nyata dalam bidang kesenian dan kebudayaan (Siregar, 2010: 124-125).

Jiwa Ketok

Sudjojono memahami kesenian sebagai jiwa ketok (jiwa yang nampak). Sudjojono dalam esainya yang berjudul “Kesenian, Seniman dan Masyarakat”mempertanyakan apa yang disebut sebagai kesenian.

“Apakah itu kesenian? Untuk menjawab ini susah sekali. Kalau seorang seniman membuat suatu barang kesenian, maka sebenarnya buah kesenian tadi tidak lain dari jiwanya sendiri yang kelihatan. Kesenian adalah jiwa ketok. Jadi kesenian adalah jiwa. Jadi kalau seorang sungging membuat sebuah patung dari batu atau kayu, maka patung batu atau patung kayu tadi, meskipun ia menggambarkan bunga, ikan, burung, atau awan saja, sebenarnya gambar jiwa tadi. Di dalam patung ikan, patung burung, atau awan tadi kelihatan jiwa sang Sungging dengan terangnya.”(Sudjojono, 2000: 92)

Kesenian bagi Sudjojono ialah jiwa seniman yang terlihat. Karya seni merupakan gambaran jiwa seniman sekalipun materi yang direproduksi ialah tiruan dari kenyataan. Hal ini dapat terjadi karena menurut Sudjojono jiwa bukanlah suatu kamar klise yang menangkap kenyataan sebagaimana adanya. Sudjojono memberi ilustrasi tentang proses kreatif yang berangkat dari penglihatan ditangkap jiwa lalu dimanifestasikan dalam gambar atau lukisan.

“Lebih jelas lagi umpamanya: Seorang pelukis hendak melukis seekor burung. Pelukis harus melihat burung dengan perantaraan matanya. Dari mata tadi, jiwanya mendapat cap burung, lalu mengadakan suatu proses psikologis di dalam. Sesudah proses ini terjadi, maka barulah dia melukis dengan perantaraan tangannya. Jalannya jadi demikian: burung-matajiwa; jiwa-tangan-gambar burung.” (Sudjojono, 2000: 11).

Sudjojono menyatakan sekalipun objek yang dilihat sama, dan sekalipun cara kerja mata mempunyai persamaan dengan cara kerja lensa foto, namun “jiwa kita bukan hanya suatu kamar klise saja”, yang langsung memantulkan objek sama persis apa adanya. Jiwa tadi mempunyai watak yang berbeda-beda. Jiwa mempunyai filsafat hidup, perasaan warna, perasaan indah yang berbeda antara satu orang dengan orang yang lain. (Anastasia Jessica Adinda S.)

Sumber: https://indoprogress.com/2013/09/konsep-konsep-seni-s-sudjojono/

Berkaitan dengan uraian tentang “Jiwa Ketok” Sudjojono di atas, dalam kaitan Seni Kaligrafi Islam kita teringat ungkapan  kaligrafer kenamaan di akhir Daulah Abbasiyah yaitu Yaqut Al-Musta’shimi menyatakan bahwa: “Kaligrafi adalah seni arsitektur rohani yang lahir melalui perangkat kebendaan”  (HD. Sirojuddin AR, 2016: 3). Perangkat kebendaan diartikan sebagai manifestasi jiwa dalam wujud  karya seni rupa.*

“Arsitektur Rohani” karya Abd. Aziz Ahmad, 24 Maret 2021
Ukuran: 21 x 29.7 cm. Media: Tinta Cina di atas kertas.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *